9.11.09

Dua Tuan dan Satu Anjing

(Tulisan ini dibuat 11 bulan yang lalu, ketika saya masih bergantung sepenuhnya kepada manusia, bukannya Sang Pencipta)
Teman baikku masuk ke dalam kamar. Langkahnya terdengar di atas lantai kayu, menyeberangi kamar, duduk di sampingku. Pasti ia merasakan bebanku sampai ia berinisiatif mendatangi aku. "Teman, tahukah kau susahnya membagi hati ini untuk dua orang? Tuan yang satu itu, tega sekali sama aku. Aku bisa ditinggal begitu saja untuk perempuan lain, tenggelam dalam dilema dan butiran air mata. Dibiarkannya aku melompat-lompat mencari perhatian dia, mengemis cinta dan cium. Padahal aku tulus datang dengan cinta, tapi cinta itu dilepeh baik-baik olehnya. Ah, walaupun begitu pun aku masih tetap memungutnya. Sedangkan Tuan yang satunya lagi, bikin aku mabuk kepayang. Ia berlutut di depanku, bahkan betah di antara kedua tanganku. Ia menemani aku sampai fajar tiba, dan masjid-masjid mulai berisik. Diberikannya padaku isi pikirannya dan hatinya. Aku jadi merasa disayang, diinginkan, dibutuhkan. Kata-katanya membuat aku pusing, sentuhannya membuat aku merinding. Susah memang, membagi hati untuk dua orang. Apalagi jika dua orang itu sebenarnya satu. Mungkin harus kutunggu sampa keduanya melebur jadi satu, baru kutangkap pakai jala biar tidak lari kemana-mana seperti anjing. Namun kalau ia hendak lari, pasti kurobek sendiri jala itu dengan gunting dalam tasku. Begitu besar kasihku padanya sampai aku rela membiarkan dia pergi." Lho, mau kemana kamu? Teman baikku baru saja keluar kamar tanpa bersuara. Oh, ternyata dia mau makan. Pembantuku sudah menyiapkan makan untuknya. Begitu dia mendengar piringnya dipukul dengan sendok, lupa dia akan ceritaku. Dasar anjing.

Lonte-Lonte

(Tulisan ini dibuat 11 bulan yang lalu, sewaktu amarah mengambil alih logika, dan caci maki dibuat puisi. Selamat menikmati.)
Muak aku melihat perempuan-perempuan itu. Kulit kecokelatan hasil berjemur berjam-jam, rambut panjang hasil sambung-menyambung bernilai jutaan yang diambil dari kepala perempuan lain yang sudah tidak bernafas, lensa kontak berwarna-warni , bisa jadi mereka malu karena warna matanya tidak sama dengan perempuan Uzbekistan di meja sebelah yang bayarannya cuma satu juta lebih sedikit untuk tiga jam di atas tempat tidur. Belum lagi badan digambar di tempat-tempat yang mengundang birahi, cara berbicara dan berperilaku seperti anak kampung dari Bojongkenyot yang tidak punya uang untuk sekolah dan tidak pernah belajar sopan santun, dan modus operandi di diskotik dengan mendekati laki-laki berkulit putih dan berhidung mancung untuk mendapatkan segelas vodka gratis. Aku pakai lensa kontak agar dapat melihat lebih jelas. Untuk mendeteksi perempuan-perempuan seperti mereka, dan memberitahukan kepada laki-laki atau perempuan di dekapanku agar tidak terbuai dengan binatang-binatang binal itu. Aku tidak sudi menerima minuman gratis dari laki-laki manapun, kalau dia sudah berani merengkuh pinggulku setelah enam puluh detik berkenalan. Mungkin aku tidak pernah ambil sekolah kepribadian, tapi aku tidak pernah melepaskan seantero penghuni kebun binatang dari bibirku. Hati-hati ya Sayang?

Long Live Capitalism

once upon a time in an ordinary gloomy day like in all those
creepy children books.. a creature was born into this world by a laser beam from the CIA. like many other creatures, this one also learn about capitalism, commercialism, and Mr. Money. quite soon enough, it developed a certain feelings for money called Love. like many other Money groupies, this creature is driven by money. all it can think about is Capital with a big C. then it's Love swallowed all of it's Money. like most lovers did in this epidemic capitalism world. swallowed it all like a wind that wipes away all of it's dreams with it's money in the so-called-promising-future. don't be. we're all humans inside. (photography: danur setsumar & nadia rachel. digital imaging: nadia rachel)

Nurtured by nature.. or tortured?

What’s your top three drugs of choice? Demikian pertanyaan saya kepada seorang teman yang bekerja sebagai fotografer di sebuah majalah lokal. Tiga kata yang terlontar darinya adalah marijuana, anti-depressants, dan cocaine. Pertanyaan yang semula bertujuan untuk sekedar iseng – iseng belaka, ternyata ditanggapi dengan serius dan membutuhkan waktu sekitar 180 detik untuk menjawabnya. Ketika ditanya lebih lanjut kenapa membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan yang notabene konteksnya tidak jauh dari kehidupan sehari-harinya, ‘responden’ tersebut menjawab, “Abisnya top three sih, kalo disuruh milih satu sih gampang, udah pasti ganja.”

Marijuana yang memulai invasinya di tahun 1970-an itu sempat menjadi favorit utama bagi generasi orangtua kita. Magic grass yang konon disebut-sebut sebagai drug of choice-nya John Lennon, Bob Marley, dan sederet musisi lain yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga itu dipopulerkan oleh flower generation (hippies) yang berkeliling Amerika untuk menyebarluaskan propaganda world peace-nya di tahun 1970-an. Sampai kini, meskipun world peace itu sendiri masih hanya angan-angan semata dan realisasinya sama susahnya dengan Pancasila, namun para hippie tersebut sukses membuat marijuana menjadi the number one drugs of all.

Dari era kejayaan cocaine di kalangan supermodel jaman Studio 54, LSD yang dipopulerkan Albert Hoffman, sampai anti-depressants yang ditemukan di kantong celana Winona Ryder sewaktu tertangkap shop lifting di Saks Fifth Avenue beberapa tahun lalu, semuanya mengindikasikan bahwa evolusi drugs semakin luas ragamnya. Jimi Hendrix terang-terangan mengatakan bahwa ia menyelipkan LSD di balik ikat kepalanya ketika konser. Nicole Richie yang sekarang dijadikan acuan gaya berpakaian kebanyakan anak muda yang rajin absen di mall-mall juga mengakui bahwa ia mengkonsumsi xanax dan valium, yang termasuk anti-depressant jenis alprazolam dan diazepam. Tapi tetap saja fashion icon yang gaya berpakaiannya berubah 180 derajat setelah mengimplemetasikan tutorial dari seorang fashion stylist yang ternama itu tertangkap basah mengkonsumsi marijuana oleh paparazzi di sebuah night club di Los Angeles.

Apa hebatnya tumbuhan satu ini, yang legal di Belanda dan ilegal di Indonesia? Pihak yang kontra terhadap marijuana mengatakan bahwa “Ganja itu bikin ribet! Gue nggak bisa mikir kalo lagi giting, pasti pikirannya kemana-mana.” Tapi ketika ditanya apa drugs pilihannya, ia menjawab marijuana. Berarti ia pro marijuana yang kontra. Atau kontra marijuana yang pro? Bukan terminologinya atau oposisi dari pernyataannya yang menjadi masalah disini, tapi fenomena marijuana itu sendiri yang tidak ada matinya. Kalau kata para dokter St. Mary Hospital di London bahwa marijuana memperlambat daya pikir otak dan mengurangi kapasitas memori manusia, maka ‘pembelaan’ orang yang pro marijuana adalah ketidakmampuan mereka dalam melaksanakan aktivitas sehari-harinya jika tidak diimbangi dengan penggunaan marijuana.

Otak kiri manusia diidentikkan dengan pemikiran rasional, sedangkan otak kanan identik dengan segi estetika dan emosional. Seorang pelukis mengatakan bahwa inspirasinya untuk melukis didapat ketika mengkonsumsi ganja. Namun ketika ditanya sejak kapan ia mulai mengkonsumsinya, ia membutuhkan waktu yang lama untuk menjawabnya. Lebih lama dari anak lima tahun yang diminta untuk menjelaskan definisi nasionalisme. Kalau ini berarti otak kanannya lebih signifikan dari otak kirinya, maka kesimpulannya adalah otak kirinya sudah terkontaminasi marijuana. Apakah ini kerugian buat si pelukis? Kalau ia hidup dari lukisannya, berarti ia tidak dirugikan. Lain ceritanya kalau ia bekerja sebagai accounting di sebuah perusahaan information technology, jelas ia dirugikan. Kalkulasi cash flow perusahaan bisa jadi berantakan karena keterbatasan memorinya. Rugi atau tidaknya tergantung dari sisi mana marijuana tersebut dihakimi.

Mulai dari satpam perumahan yang bisa disogok dengan selinting ganja untuk membukakan portal pada jam 5 pagi, seorang disc jockey yang mengakui bahwa setelah selesai perform di club terbiasa ‘nyimeng’, sampai artis muda ibukota yang mengatakan bahwa ia seringkali merasa tidak percaya diri untuk di-shoot sebelum mengkonsumsi marijuana; hampir semua orang dari segala strata sosial tidak terlepas dari pengaruh marijuana. Seorang graphic designer di Singapura mengatakan bahwa top drug of choice-nya adalah marijuana, selain ecstasy dan crystal. Padahal ia menyadari fakta bahwa di negara tempat ia menetap diberlakukan death penalty untuk marijuana user atau seller.

Ditinjau dari kacamata agama, marijuana itu dosa. Namun orang-orang beragama ternyata banyak juga yang tidak lepas dari ganja. Bagi orang-orang seni, kreativitas mereka datang dari marijuana. Dan negara kita butuh kreativitas rakyatnya untuk meningkatkan devisa negara, seperti Jepang yang penghasilannya dari komik manga empat kali lipat dari hasil export bajanya. Siapa tahu Aceh yang konon adalah produsen ganja terbesar di seluruh Indonesia bisa memberikan kontribusinya untuk meningkatkan devisa.

Jadi, nurtured by nature.. or tortured by nature?

8.11.09

Salah Sendiri

Malam ini bulan hampir bundar. Tapi cahayanya tidak berpendar. Jempol kakiku mengintip dari balik stoking hitam yang tercabik rokok. Mengejek. Menertawakan. Sepuluh menit aku termenung. Dari merasa sedih, tolol, sampai akhirnya tertawa sendiri. Batasan realita jadi rancu. Semua kacau. Tadi malam mimpiku bernuansa hitam dan biru. Dipenuhi kostum yang meneriakkan kekuatan kaum feminis dan hak tiga belas senti yang mendominasi. Tapi mimpi itu layaknya embun. Menguap setelah dicium matahari. Sekarang digantikan sampah dan kaleng kosong. Rasanya, hai teman, sama seperti cinta monyet semasa SMP. Tiket nonton disimpan rapi. Kuperhatikan cara ia berbicara dan tertawa. Sampai hafal dengan kebiasaannya berkata-kata. Berhari-hari ia menetap di mimpiku. Namun statusnya tetap nomaden. Dari semua laki-laki di luar sana, mengapa dia? Dia, yang sekarang tidak mungkin dirasa, diraba, atau dicium. Dia, yang logika berpikirnya sukses mematahkan logika dan moralku. Sampai-sampai aku harus membujuk otak untuk berteman dengan hati. Kalau mereka rujuk, aku tidak jadi mati. Menginginkan sesuatu yang tidak mungkin itu sama dengan menentang salah satu dari sepuluh perintah Allah. Atau memang inilah yang namanya hidup? Jari kelingkingnya lebih besar dari jari tengahku. Tapi jempolku sama panjang dengan kelingkingnya. Ia mungkin tidak ingat. Tapi aku tahu aku bisa menggambar siluet mukanya dengan mata tertutup,
kalau aku mau. (Jakarta, Desember 2009)

why do people with closed minds open their mouth?

About Me

problematic in associating names with faces.