8.11.09

Salah Sendiri

Malam ini bulan hampir bundar. Tapi cahayanya tidak berpendar. Jempol kakiku mengintip dari balik stoking hitam yang tercabik rokok. Mengejek. Menertawakan. Sepuluh menit aku termenung. Dari merasa sedih, tolol, sampai akhirnya tertawa sendiri. Batasan realita jadi rancu. Semua kacau. Tadi malam mimpiku bernuansa hitam dan biru. Dipenuhi kostum yang meneriakkan kekuatan kaum feminis dan hak tiga belas senti yang mendominasi. Tapi mimpi itu layaknya embun. Menguap setelah dicium matahari. Sekarang digantikan sampah dan kaleng kosong. Rasanya, hai teman, sama seperti cinta monyet semasa SMP. Tiket nonton disimpan rapi. Kuperhatikan cara ia berbicara dan tertawa. Sampai hafal dengan kebiasaannya berkata-kata. Berhari-hari ia menetap di mimpiku. Namun statusnya tetap nomaden. Dari semua laki-laki di luar sana, mengapa dia? Dia, yang sekarang tidak mungkin dirasa, diraba, atau dicium. Dia, yang logika berpikirnya sukses mematahkan logika dan moralku. Sampai-sampai aku harus membujuk otak untuk berteman dengan hati. Kalau mereka rujuk, aku tidak jadi mati. Menginginkan sesuatu yang tidak mungkin itu sama dengan menentang salah satu dari sepuluh perintah Allah. Atau memang inilah yang namanya hidup? Jari kelingkingnya lebih besar dari jari tengahku. Tapi jempolku sama panjang dengan kelingkingnya. Ia mungkin tidak ingat. Tapi aku tahu aku bisa menggambar siluet mukanya dengan mata tertutup,
kalau aku mau. (Jakarta, Desember 2009)

1 comment:

Anonymous said...

December 2009? You are ahead of your time. I'm a voyeur loving your projection.


why do people with closed minds open their mouth?

About Me

problematic in associating names with faces.