17.2.09

Apanya Yang Lucu?

Beberapa menit yang lalu saya menyempatkan diri untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh adik perempuan saya di kamarnya. Dia masih duduk di tingkat terakhir Sekolah Dasar, dan termasuk murid yang pintar di sekolahnya (melihat gelar Juara Umum yang berhasil didapatnya dan juara kelas berkali-kali). Saya menyadari potensi yang dimilikinya, dan selama ini selalu berusaha untuk membimbing dia sedapat mungkin ke arah yang positif. Dilihat dari perkembangannya, hebat juga koleksi film kartunnya hasil download sendiri di Rapidshare. Dari parental control yang saya lakukan, selama ini semuanya masih positif, sampai beberapa menit yang lalu. Adik saya (Liza Rachel) sedang YouTube-ing ketika saya masuk ke kamarnya. Dari tampilan layar yang berwarna-warni, sepertinya kartun tersebut biasa saja, sama seperti kartun lainnya yang diperuntukkan untuk anak kecil. Ternyata ia sedang menonton Happy Tree Friends; kartun yang sudah sering saya dengar namun tidak pernah saya tonton sebelum hari ini. Tapi ketika saya memperhatikan adegan-adegannya, dahi saya langsung berkerut. Langsung saya bertanya. "Buat apa sih nonton ini? Memangnya bagus?" "Habisnya lucu, Kak. Buat iseng-iseng aja." Lucu dari mana? Adegannya tidak jauh-jauh dari bola mata yang ditembus ujung gunting, pecahan kaca yang masuk ke dalam mulut, aquarium dengan air berwarna merah darah, karakter yang dijepit kursi sampai badannya hancur lebur, bahkan ada satu episode dari Mondo Mini Shows tersebut yang menceritakan bagaimana karakter berbentuk rusa berwarna biru yang kakinya terjepit pohon terpaksa menggergaji kakinya dengan sendok dan penjepit kertas sepanjang hari. Saya sendiri bukan tipe orang yang takut melihat darah, tapi ketika (dulu) saya menonton film Saw buatan Australia itu, jujur saja saya sempat mual melihat adegan kaki digergaji yang persis sekali dengan adegan Happy Tree Friends tersebut. Ini memang bukan isu baru. Namun saya tidak dapat tidak memikirkan; apa kira-kira akibat jangka panjangnya bagi adik saya? Bagaimana dengan anak-anak lainnya? Apalagi mereka yang di bawah umur lima tahun (The Golden Age), yang kemampuannya menyerap informasi menentukan pertumbuhan cara berpikir mereka untuk (setidaknya) 30 tahun ke depan? Hasil penelitian melalui metode content analysis oleh Parents Television Council terhadap kartun-kartun serupa di negara-negara maju menunjukkan bahwa dari 443 jam penayangan kartun-kartun tersebut, terdapat 3.488 bentuk kekerasan. Penelitian yang sama juga mengindikasikan bahwa lebih banyak kekerasan dalam program acara televisi untuk anak kecil dibandingkan program untuk orang dewasa. Sampai sekarang belum ada tanggapan yang riil dari pemerintah. Mereka hanya dapat menghimbau para orangtua untuk memperhatikan acara-acara televisi yang ditonton anaknya, dan memberikan penjelasan atau bimbingan tertentu. Keseluruhan permasalahan ini membuat saya teringat dengan salah satu episode di The Simpsons, ketika Marge Simpson berinisiatif menghitung sendiri jumlah adegan kekerasan di kartun Itchy & Scratchy kesayangan Bart dan Lisa, kemudian menuntut perusahaan yang berkaitan untuk mengurangi kadar kekerasannya. Usahanya tidak sia-sia, karena Marge mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang yang mempunyai visi yang sama. Dan untuk sementara, saya hanya dapat 'melindungi' adik saya dari kejahatan kartun tersebut. Menyedihkan.

4 comments:

Anonymous said...

ka nadiaaaaaaaa.. ini tarraaaa, cosmo. iyaya serem juga, makin kesini tontonan adik2 kita semakin gak ke kontrol setiap hari nya. banyak unsur2 kekerasan yang kadang2 kalo gak jeli, gak ketauan. justru yang kaya gini nih yang membahayakan.

Tor Hershman said...

Considering moi's last name - I did the photo.

curipandang said...

tulisan bagus, penting. would you kindly share to us in our website? :)

s. sterng said...

I miss reading formal essays in Bahasa. I like this. I like your writing.


why do people with closed minds open their mouth?

About Me

problematic in associating names with faces.